Rabu, 17 Februari 2010

BAB IV AKA I


IV. PEMBAHASAN



Pada pembahasan ini penulis mengambil sampel pemasangan pipa cabang di PT. INDONESIA POWER sebagai acuan untuk melihat rincian kebutuhan material yang dibutuhkan untuk membangun sebuah jairingan pipa gas. Sedangkan untuk pelaksanaan pemasangan pipa dan masalah yang timbul dalam pelaksanaan pemasangan pipa, penulis mengambil data secara umum pelaksanaan pemasangan pipa yang telah dilaksanakan oleh PT. Perusahaan Gas Negara melalui PDJB yang merupakan divisi pengembangan jaringan pipa gas di Jawa Barat.
Berikut adalah denah lokasi pemasangan pipa gas PT. INDONESIA POWER.
Gambar 4.1 Peta Lokasi
4.1 Data Material Lapangan
Berikut ini adalah gambar isometrik rencana pemasangan jaringan pipa cabang untuk PT. INDONESIA POWER dengan diameter 16”.











Gambar 4.2 Isometric Drawing
Dari gambar isometrik diatas, maka dibutuhkan material sebagai berikut:
Tabel 4.1 Kebutuhan Material
NOMOR GAMBAR
KEBUTUHAN MATERIAL
DIAMETER
VOLUME
SATUAN
1
PIPA API 4L GRD B
16”
1400
METER
2
BALL VALVE
16”
2
BUAH
3
BALL VALVE
2”
3
BUAH
4
WN. FLANGE
16”
4
BUAH
5
WN. FLANGE
2”
3
BUAH
6
WELD-O-LET
16” * 2”
3
BUAH
7
BLIND FLANGE
2”
3
BUAH
8
ELBOW 90O
16”
5
BUAH
9
ELBOW 45
16”
10
BUAH
10
ELBOW 22,5
16”
4
BUAH
11
GASKET
(CLASS 300)
16”
4
BUAH
12
GASKET
(CLASS 300)
2”
6
BUAH

13
STUD BOLTS & NUTS CLASS 300
16”
64
BUAH

14
STUD BOLTS & NUTS CLASS 300
2”
24

BUAH
15
EQUAL TEE
16”x16’x16”
1
BUAH
16
INSULATING JOINT
16”
1
BUAH
17
TEXT BOX
3”
4
BUAH
18
JUNCTION BOX
-
1
BUAH
19
MAGNESIUM ANODA (7,72 KG)
-
21
BUAH
20
END CAP
16”
1
BUAH
4.2 Pelaksanaan Konstruksi
4.2.1 Tahapan Pelaksanaan Konstruksi
Pengangkutan
Pembersihan jalur
Penjajaran Pipa
Survei
Radiografi (NDT)
t Coating

Pengelasan

Penggalian

Field Joint Coating
Proteksi katodik
Holiday Test
Penurunan Pipa
Backfilling
Commissioning
Reinstatement
Hydrotest










4.2.1.1 Kegiatan Survei

Gambar 4.3 Survei
Adalah pekerjaan yang pertama kali dilakukan sebelum kegiatan konstruksi dimulai agar diperoleh data-data pendukung bagi basic design.
Hasil yang diperoleh pematokan kilo meter point, data basic design.
4.2.1.2 Pembersihan Jalur Pipa
Kegiatan ini meliputi dua jenis kegiatan yaitu kegiatan Cut and Filled dan kegiatan Clearing and Grading.
Cut and Filled yaitu pekerjaan pemotongan pohon sepanjang rencana jalur pipa/ROW. ROW atau Right Of Way adalah suatu lahan yang digunakan bagi pengerjaan konstruksi dan pemasangan pipa bawah tanah atau fasilitas lainnya.
Peralatan yang diperlukan adalah exavator, cain saw, dozer, cangkul. Hasil yang diperoleh pembukaan lahan untuk pekerjaan pemasangan pipa dan peralatan yang akan digunakan.
Clearing and Grading yaitu pekerjaan pembersihan lahan dari pepohonan sisa cut and filled dan perataan jalur dimana pipa akan ditanam. Peralatan yang digunakan adalah exavator, dozer, cangkul, penggunting tanaman, kampak.
Hasil yang diperoleh adalah jalur pipa bersih dari potongan pohon, dan jalur piap sudah rata sehingga memudahkan akses peralatan masuk. Tanah permukaan (humus) tidak dibuang sampai kegiatan reinstatement dilaksanakan.

4.2.1.3 Inspeksi dan Penanganan Pipa
1). Inspeksi Pipa.
Pipa yang tidak sesuai dengan Spesifikasinya diberi tanda spidol.
Pipa yang tidak sesuai dibuat surat laporan.
Pipa yang tidak sesuai atau rusak kemungkinan dapat diperbaiki atau ditolak
Pipa yang tidak sesuai akan disingkirkan kedalam laporan.
2). Penyimpanan Pipa.
1. Harus dekat dengan lokasi konstruksi.
2. Harus diberi bantalan.
3. Sesuai dengan karakternya
4. Sudah tersedia tempat / ruang pipa.
3). Pengembalian Pipa.
1. Pipa yang rusak atau tidak sesuai diberi tanda diujung pipa dengan spidol dan ditulis rusak.
2. Pipa yang rusak dibuat surat laporan dan dijelaskan ke gudang diketahui oleh
Supervisor.
3. Pipa cadangan akan segera dikirim tentunya harus persetujuan Supervisor.

4.2.1.4 Pengangkutan Pipa
Yaitu kegiatan pengangkutan pipa dari gudang ke site. Peralatan yang digunakan adalah trailer/truck dan hydraulic crane. Loading yaitu pengangkutan pipa ke atas, dan unloading yaitu penurunan pipa dari kendaraan.

Gambar 4.4 Pengangkutan Pipa
4.2.1.5 Stringing/Penjajaran Pipa

Gambar 4.5 Penjajaran Pipa
Yaitu pekerjaan penjajaran pipa disepanjang jalur pekerjaan. Selama kegiatan pembongkaran untuk mencegah kerusakan coating pipa diletakkan diatas skit. Peralatan yang digunakan adalah crane, truck trailer, excavator, tripod, chainblock.

4.2.1.6 Trenching/Penggalian
Yaitu penggalian lubang galian untuk tempat masuknya pipa setelah pekerjaan pengelasan selesai. Lebar minimum parit selebar diameter luar pipa ditambah 30 cm, dasar galian harus rata dan bebas dari meterial atau bebatuan yang keras agar tidak merusak coating pipa. Peralatan yang digunakan adalah exavator. Hasil yang diperoleh adalah lubang parit sesuai standar.

Gambar 4.6 Penggalian

4.2.1.7 Welding/Pengelasan

Gambar 4.7 Pengelasan
Yaitu pekerjaan pengelasan atau penyambungan antara pipa meggunakan Manual Metal Arc Welding (MMAW/SMAW) dan Gas Tugsten Arc Welding (GTAW). Peralatan yang digunakan adalah mesin las dan perlengkapannya, side boom, tenda pelindung.
Sebelum pengelasan terlebih dahulu dibuat WPS (Welding Procedur Specification) sebagai bahan acuan pengelasan di lapangan. Setiap tukang las (Welder) harus lulus pada ujian las yang dilakukan oleh MIGAS. Sertifikat yang dimiliki harus valid sebelum mulai pekerjaan. Setiap pengelasan perbaikan atau repair harus mendapat ijin tertulis dari seorang Welding Inspector.

4.2.1.8 Radiography (NDT)
Suatu metode pengujian kualitas/mutu sambungan las tanpa merusak material pipa. Peralatan yang digunakan adalah pesawat X-Ray, perlengkapan keselamatan, dan tempat proses yang disebut dark room. Hasil yang diperoleh adalah film negatif hasil pengelasan. Semua film hasil pemotretan X-Ray akan diperiksa bersama antara QA/QC kontraktor dan disaksikan oleh QA/QC klien.
Untuk pemeriksaan hasil las golden joint, split tee, dan weld O let, menggunakan metode ultrasonik test dan dye penetrant.
Gambar 4.8 Radiografi


4.2.1.9 Field Joint Coating
Yaitu pekerjaan pengcoatingan yang dilakukan di setiap sambungan pipa setelah hasil radiografi mendapat persetujuan dari pengawas (welding inspector). Tujuan dari pembalutan hasil pengelasan (field protective coating joint) adalah untuk melindungi permukaan pipa/fitting dari korosi pada ujung-ujung pipa (joint) atau fitting yang belum terlapisi oleh pembalut anti korosi. Coating ini terdiri dari dua yaitu wrapping dan HSS (Heat Shrink Sleeve)

Gambar 4.9 Field joint Coating



4.2.1.10 Holiday Test
Yaitu proses pengujian hasil pelapisan/joint coating dengan menggunakan tegangan 12 KV dimana jika terjadi kebocoran coating, alat ini akan mengeluarkan bunyi alarm atau terjadi “Spark” pada daerah yang bocor.
Sebelum pengujian Holiday Detector terlebih dahulu dilakukan kalibrasi terhadap besaran arus listriknya, sehingga sesuai dengan kalibrator. Segala kerusakan yang terjadi harus diperbaiki sebelum pipa diturunkan ke dalam galian.
Gambar 4.10 Holiday Test

4.2.1.11 Lowering/Penurunan Pipa

Gambar 4.11 Penurunan Pipa
Yaitu pekerjaan penurunan pipa setelah disambung antara yang satu dengan lainnya kedalam lubang galian yang telah disediakan dengan menggunakan alat bantu side bom. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan hal – hal sebagai berikut :
- Penurunan pipa menggunakan side bom untuk memastikan tidak terjadi kerusakan pipa karena adanya lendutan.
- Ujung pipa yang terbuka didalam parit harus ditutup.
- Dasar parit harus bersih dari benda-benda keras yang dapat merusak lapisan luar pipa jika perlu dilapisi dengan pasir
- Proses pemasangan pipa disesuaikan kontur tanah

4.2.1.12 Proteksi Katodik
Sistim proteksi katodik yang digunakan di PGN pada saat ini ada dua metode yaitu :
1. Metode anoda korban (sacrificed anode)
2. Metode arus tanding (impressed current)
v Sistem Anoda Korban (Sacrificial Anode System)
Sistem ini menggunakan dasar sumber arus listrik yang dihasilkan sendiri oleh anoda galvanic. Prinsip dasar dari sistim anoda korban adalah hanya dengan menciptakan elektokimia galvanis dimana dua logam yang berbeda dihubungkan secara elektrik dan ditanam dalam elektrolit alam (tanah atau air). Dalam sel logam yang berbeda tersebut, logam yang lebih tinggi (lebih aktif) akan menjadi lebih anodis terhadap logam yang kurang aktif dan terkonsumsi selama reaksi elektrokimia. Logam yang kurang aktif (diproteksi) menerima proteksi katodik pada permukaannya karena adanya aliran listrik melalui elektrolit dari logam yang anodis dan logam yang diproteksi tersebut dibanjiri dengan electron.
Arus

Anoda (Mg)

e
e
i
ANODA KORBAN








Gambar 4.12 Skema Pemasangan Anoda Korban
v Sistem Arus Tanding (Impressed Current System)
Pada dasarnya cara ini sama dengan proteksi anoda korban, hanya saja pada sistem arus tanding menggunakan sumber listrik dari luar (impressed current) dari DC atau AC yang dilengkapi dengan penyearah arus (rectifier).
Struktur/logam yang akan diproteksi dihubungkan dengan kutub negative (-) sehingga berfungsi sebagai katoda, sedangkan logam lain sebagai groundbed dihubungkan dengan kutub positif (+) dan berfungsi sebagai anoda. Katoda dan anoda dihubungkan dengan kawat penghantar melalui sumber arus searah (DC).
Dengan cara ini arus mengalir dari anoda melalui elektrolit (dalam tanah) ke permukaan struktur/logam, kemudian mengalir sepanjang struktur dan kembali rectifier melalui konduktor elektris. Karena struktur menerima arus dari elektrolit, maka struktur menjadi terproteksi.
TR
+ -
e
i
i
i
i
i
e
i
ARUS TANDING











Gambar 4.13 Skema Pemasangan Impressed Current

4.2.1.13 Backfilling/Penimbunan Kembali
Yaitu pekerjaan penutupan lubang galian setelah pipa selesai diturunkan ke dasar galian. Penimbunan dilaksanakan dengan menggunakan material yang halus sehingga tidak merusak permukaan coating. Peralatan yang digunakan adalah exavator, cangkul. Hasil yang diperoleh pipa tertanam sesuai prosedur.
Gambar 4.14 Backfilling


4.2.1.14 Hydrotest
Adalah pengujian sistem perpipaan untuk mengetahui kekuatan pipa dengan cara pengisian air sepanjang jalur pipa. Pekerjaan pengujian ini dilakukan untuk menjamin bahwa pada saluran/jaringan pipa tidak terdapat kebocoran.
Pengujian Hidrostatik meliputi pembersihan pipa bagian dalam, mengisi pipa dengan air dan menguji pipa dengan tekanan tertentu serta mencatat hasil pengujian tersebut. Alat yang digunakan bartoon, kompressor, pig, bar chart, DWT (Dead Weight Tester).
Adapun tahapan – tahapan hydrotest adalah :
– Cleaning (pembersihan kotoran dari dalam pipa)
– Filling water (Pengisian air)
– Pressurizing (Pemberian tekanan)
– Depressurizing (Penurunan tekanan)
– Dewatering (Pembuangan air)
– Swabbing (Pengeringan dengan menggunakan foam/pig)
Gambar 4.15 Pengujian Kekuatan Pipa


4.2.1.15 Reinstatement

Gambar 4.16 Pengaspalan Jalan
Yaitu pekerjaan perbaikan kembali semua fasilitas umum yang telah digunakan selama proses pemasangan pipa. Perbaikan dapat meliputi penanaman pohon kembali, pengaspalan jalan, serta pembuatan saluran air. Pastikanlah bahwa permukaan tanah bekas galian rata dengan kondisi jalan di sekitarnya untuk mencegah terjadinya penggenangan air.

4.2.1.16 Commissioning

Gambar 4.17 Pengeluaran Gas Nitrogen
Sebelum gas dialirkan, terlebih dahulu diisi dengan gas nitrogen (Precommissioning). Pengisian nitrogen dilanjutkan sampai mencapai 95%. Tujuan dari pemberian gas nitrogen adalah untuk mengurangi kadar oksigen dengan batas maksimum 5 %. Setelah itu baru gas bisa dialirkan (gas in). Peralatan yang digunakan antara lain presseure gauge, gas detector, ball valve.

4.2.2 Permasalahan Dalam Pelaksanaan Konstruksi
Dalam pelaksanaan proses konstruksi pipa distribusi banyak terjadi masalah yang dapat dijumpai. Apalagi kalau pelaksanaanya berada di dalam kota yang padat penduduk dan lalu lintasnya, tentu ini akan menyulitkan dalam pengerjaan pemasangan pipa. Berikut adalah beberapa masalah yang dapat penulis sampaikan terkait dengan permasalahan dalam proses pemasangan pipa yang dapat menghambat jadwal pelaksanaan proyek, masalah tersebut terdiri dari dua yaitu permasalahan teknis dan non teknis.

4.2.2.1 Masalah Teknis
Ø Penjajaran pipa tidak disejajarkan di sepanjang jalur pipa yang akan di lalui pipa tersebut, melainkan hanya di tempatkan (tumpuk) di 1 tempat. Hal ini dikarenakan lokasi untuk penjajaran pipa tidak memungkinkan untuk menjajarkan pipa di sepanjang jalur pipa yang telah direncanakan, dikarenakan di daerah tersebut merupakan daerah padat penduduk, padat lalu lintas, dan terbatasnya lebar jalan.
Ø Dalam pelaksanaan coating terkadang ada yang mendahului Radiografi (NDT), hal ini dapat menyebabkan kerugian yaitu apabila ternyata hasil pengelasan jelek, harus membongkar coating.
Ø Galian tidak membentuk sudut 60 derajat terhadap horisoltal, melainkan hanya lurus ke bawah. Hal ini berkaitan juga dengan kekuatan tanah yang akan dilalui pipa.
Ø Lapisan coating ada yang mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan karena kurang hati-hati dalam pemindahan pipa atau kegiatan lainnya.
Ø Banyaknya utilitas lain di dalam tanah.
Ø Kurangnya peralatan yang memadai, contoh: pompa air, penahan galian, lampu penerangan.
Ø Ada beberapa lubang galian yang terbuka tanpa diberi garis/tanda pengaman.
Ø Ada seorang welder yang harus melakukan kegiatan pengelasan pada pagi hari dan pada malam harinya juga.

4.2.2.2 Masalah non Teknis
Ø Belum adanya izin dari dinas terkait (PU, crossing pertamina, jalan tol) untuk memasang pipa di jalur tersebut.
Ø Beberapa pipa yang sedah ditempatkan di lokasi belum dapat dipasang dikarenakan permasalahan izin dengan instansi.
Ø Beberapa pipa cabang menghendaki percepatan dalam penyelesaian dan segera dialiri gas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Ø Banyak jalur pipa yang sudah ditetapkan sebelummnya mengalami perubahan.
Ø Keterlambatan memulai pekerjaan konstruksi disebabkan oleh belum siapnya kontraktor memulai pekerjaan.
Ø Sering terjadi perubahan sikap dari pelanggan untuk membatalkan penggunaan gas dikarenakan dinamika pasar, sehingga pemasangan pipa batal.
Ø Kontraktor seringkali mengabaikan keselamatan kerja, misal dengan tidak membawa alat pemadam kebakaran dan mobil ambulace sewaktu penyambungan pipa baru dengan pipa lama (existing).

4.2.3 Dampak dari Permasalahan
4.2.3.1 Dampak Teknis
Ø Pada saat akan memulai pengelasan akan lebih lama karena pipa yang tidak dijajarkan di sepanjang jalur pipa harus dipindahkan ke tempat yang akan di pasang pipa.
Ø Galian yang tidak membetuk sudut 60 derajat dapat mengakibatkan longsor di daerah tersebut, lebih lagi kalau di daerah yang bertanah lembek.
Ø Coating-an rusak dan harus diperbaiki, sehingga menghambat kemajuan proyek.
Ø Dikarenakan banyaknya utilitas lain di dalam tanah, maka akan menyulitkan dalam penggalian jalur pipa.
Ø Lubang yang terbuka dapat mengakibatkan kecelakaan.
Ø Hasil pengelasan tidak akan sempurna karena welder kecapekan bekerja dari pagi sampai malam.

4.2.3.2 Dampak non Teknis
Ø Pelaksanaan proyek terhenti karena belum mendapat izin.
Ø Rawan terjadi pencurian jika pipa dibiarkan begitu saja di lapangan tanpa adanya pengawasan yang cukup baik.
Ø Karena adanya perubahan jalur pipa mengakibatkan kontraktor meminta tambahan waktu untuk penyelesaian proyek.
Ø Kontraktor juga meminta tambahan dana untuk waktu lebih tersebut.
Ø Mengakibatkan lambatnya kemajuan proyek.
Ø Harga untuk pelaksanaan dapat menjadi 2x lipat dari rencana awal.
Ø Rawan terjadi kebakaran jika tidak membawa alat pemadam kebakaran.

4.2.4 Penyelesaian Masalah
1) Untuk pipa yang tidak disejajarkan di sepanjang jalur pipa, tetap di tumpuk di satu tempat tetapi dengan lokasi penumpukan yang aman dan akses pemindahan pipa ke tempat pengelasan mudah.
2) Untuk pemasangan pipa distribusi dengan galian yang tidak memungkinkan untuk membentuk sudut 600, dapat dilakukan penahanan galian di sepanjang lubang galian agar tidak terjadi longsor.
3) Berilah tanda/garis pengaman yang jelas terhadap lubang galian yang terbuka sebagai tanda peringatan bagi pemakai jalan.
4) Penyelesaian izin kepada dinas terkait (pertamina, Perhubungan Umum) harus dilaksanakan sebelum memulai pemasangan pipa agar pemasangan pipa tidak terhenti sementara di tengah jalan.
5) Pengawasan terhadap proses pemasangan pipa harus benar-benar jeli agar tidak terjadi overlap pekerjaan terutama antara pekerjaan NDT-coating karena sangat merugikan. Di samping itu peralatan keselamatan kerja juga harus diperhatikan untuk menciptakan suasana aman kerja di lapangan.
6) Harus ada pekerja cadangan yang cukup untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, jangan sampai stock yang tersedia terbatas sehingga dapat mengakibatkan tidak maksimalnya hasil dari pekerjaan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar